This is default featured slide 1 title

This is default featured slide 1 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 2 title

This is default featured slide 2 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 3 title

This is default featured slide 3 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 4 title

This is default featured slide 4 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 5 title

This is default featured slide 5 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Masa Depan Lucas di Liverpool Masih Belum Jelas

Masa Depan Lucas di Liverpool Masih Belum Jelas

Kontrak Lucas Leiva di Liverpool memang cuma tersisa satu setengah musim lagi. Namun, Lucas belum memikirkan soal masa depannya di klub itu.

Lucas adalah pemain paling senior di klub saat ini karena sudah berseragam merah-merah sejak 2007. Namun dalam beberapa musim belakangan, cedera membuat penampilannya menurun dan dia pun sulit mendapat tempat di tim inti.

Maka wajar jika masa depan Lucas kerap dispekulasikan seiring musim 2016/2017 yang akan berakhir. Apalagi manajer Juergen Klopp berencana merombak besar-besaran tim musim depan.

Meski masa depannya dispekulasikan mendekati kontraknya yang berakhir Juli 2018 nanti, Lucas tak mau ambil pusing dan fokus saja pada penampilannya.

“Jangan pernah meragukan komitmen saya pada Liverpool, saya hanya tingga menunggu hingga akhir musim, bekerja keras dan membuat keputusan bersama dengan klub,” ujar Lucas seperti dikutip Soccerway.

“Saya sudah sangat lama di sini dan jika tiba saatnya saya untuk pergi maka saya akan pergi setelah berusaha maksimal di sini,” sambungnya.

“Saya sudah semakin dekat dengan ujung karier saya di mana saya berpikir bisa banyak membantu tentunya di luar lapangan serta dalam lapangan.”

“Waktu bermain itu penting, saya tidak hanya ingin jadi pelengkap. Saya merasa masih bisa tampil kompetitif untuk beberapa musim lagi.”

“Saya harus menganalisa dan melihat apa yang terbaik untuk saya serta klub, lalu saya pastikan bahwa kami akan membuat keputusan bersama-sama,” tutupnya.

Lucas sudah mengumpulkan 339 penampilan untuk Liverpool dengan torehan tujuh gol di seluruh kompetisi.

Brighton, Newbie Premier League yang Pernah Jual Stadion untuk Bayar Utang

Brighton, Newbie Premier League yang Pernah Jual Stadion untuk Bayar Utang

Brighton & Hove Albion F.C jadi klub pertama yang dapat promosi ke Pemier League 2017/2018. Berusia 115 tahun, klub ini sempat menjual kandangnya untuk bayar utang.

Brighton memastikan finis di posisi dua besar Divisi Championship setelah mengalahkan Wigan Athletic 2-1, Senin (17/4/2017) waktu setempat. Poin penuh dari laga itu mengokohkan posisi mereka di puncak klasemen dengan poin 92 dari 43 pertandingan.

Ini adalah untuk kali pertama Brighton lolos ke Premier League. Namun begitu mereka sempat berkompetisi di level teratas sepakbola Inggris (Divisi I) pada periode 1979 hingga 1983. Di tahun 1983 klub berjuluk The Seagul ini berhasil lolos ke final Piala FA, namun kalah di tangan Manchester United.

Di tahun yang sama Brighton harus terdegradasi, dan tak pernah lagi kembali ke level teratas sepakbola Inggris. Dari situ mereka tak pernah bangkit lagi, dan bahkan harus menjalani periode paling suram pada 1990-an.

Manajemen yang buruk nyaris membuat klub ini mengalami degradasi dari Football League ke Conference Division – tingkatan kelima sekaligus paling bawah di level sepakbola Inggris – pada 1997 dan 1998. Mereka pada akhirnya batal turun ke level 5 Liga Inggris setelah meraih serangkaian hasil bagus di akhir musim, termasuk hasil imbang 1-1 dengan Hereford United di pekan pamungkas yang memastikan terhindar dari degradasi.

Ketika itu Brighton juga nyaris dilikuidasi dan terbelit utang menumpuk. Manajemen klub kemudian memutuskan menjual Stadion Goldstone Ground untuk melunasinya.

Sempat ‘menumpang’ di Priestfield Stadium milik Hereford United, dan kemudian berkandang di Withdean Stadium, Brighton perlahan-lahan mulai bangkit. Pada musim 2001/2002 mereka merebut gelar juara Divisi 3, dan dilanjutkan dengan titel Divisi 2 semusim berselang.

Brighton kemudian lebih sering promos dan degradasi dari level 3 ke level 2 selama beberapa tahun. Di 2010/2011 mereka akhirnya naik kelas ke Divisi Championship. Di tahun yang sama klub ini akhirnya punya stadion sendiri: Falmer Stadium (yang kemudian dijual hak penamaannya menjadi American Express/Amex Stadium).

Pada periode 2012/13, 2013/14 dan 2015/16 Brighton selau berhasil lolos ke playoff Championship. Namun nasib baik belum berpihak karena mereka selalu kalah. Baru di musim ini mereka dapat promosi, yang diraih dengan bergaya karena mereka dapat tiket lolos langsung sebagai penghuni dua besar.

Gus Poyet sempat melatih Brighton pada periode 2009 hingga 2013. Nama besar lain yang pernah duduk di kursi manajer klub ini adalah Sami Hyypia. Saat ini klub tersebut berada di bawah arahan Chris Hughton, pria yang sempat jadi caretaker Tottenham Hotspur dan Newcastle United serta jadi manajer Birmingham City dan Norwich City.

Dikutip dari Sky Sports, Brighton menjadi klub nomor 48 yang tampil di Premier League sejak kompetisi ini dikreasikan pada 1992. Sejarah mencatat kalau para newbie (klub yang baru sekali main di Premier League) kerap yang dapat hasil jelek alias kembali degradasi.

Dari lima klub terakhir yang baru sekali main di Premier League, tiga di antaranya langsung kembali ke Championship (Burnley, Blackpool, dan Cardiff). Sementara dua lainnya bisa tampil lumayan: Swansea finis ke-11 dan Bournemouth finis di urutan 16 setelah menghabiskan uang lumayan besar.

Persib Tunggu Taji Investasi Bernilai Selangit

Persib Bandung jadi kandidat juara Liga 1. Maung Bandung mempunyai skuat dengan nilai investasi ‘wow’.

Sejak terakhir kali menjuarai kompetisi Indonesian Super League (ISL) 2014, Persib tidak bermain konsisten di level turnamen. Usai menjuarai Piala Presiden 2015, Persib malah tak bisa lolos dari babak grup di Piala Jenderal Sudirman.

Sementara itu, di Indonesian Soccer Championship (ISC) A–kompetisi pengganti ISL sementara–Persib hanya mampu finis di posisi kelima, yang sebagian besar perjalanan mereka diasuh Dejan Antonic.

Menjelang bergulirnya Liga 1, Persib mulai menebar ancaman lagi. Dengan kehadiran beberapa pemain yang ada saat menjuarai ISL 2014, tim yang juga berjuluk Pangeran Biru tersebut diprediksi bisa kembali menerkam lawan-lawannya selama perjalanan musim pertama Liga 1 ini.

Persib tergolong tim yang aktif mendatangkan dalam bursa transfer menjelang kompetisi musim ini. Selain kuantitas, Persib juga mendatangkan eks mantan pemain Chelsea, Michael Essien. Persib memang tak membuka nominal gaji essien, namun disebut-sebut pemain Ghana itu digaji Rp 11,2 miliar per tahun.

Selain itu, Persib juga menambah skuat dengan merekrut penyerang yang pernah bergabung dengan Chelsea dan West Ham United dan timnas Inggris, Carlton Cole. Satu pemain cemerlang lain yang didatangkan adalah Raphael Maitimo.

Cole digaji lebih rendah ketimbang Essien dengan nominal Rp 5 miliar. Adapun Maitimo yang berada di kisaran Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar.

Namun, angka yang besar itu belum terlihat tajinya dalam laga uji tanding kontra Bali United. Tim besutan Djanur harus tunduk 1-2 dengan permainan lini tengah yang kurang oke.

Kerjasama Essien dengan Hariono di poros tengah tidak berjalan baik. Hasilnya, Persib kemasukan gol kedua di babak kedua lewat skema serangan balik, setelah Hariono melepaskan umpan ke pemain Persib.

Cole juga belum menunjukkan kualitasnya dengan hanya bermain selama 12 menit. Pemain asal Inggris itu tak banyak mendapat suplai bola dari rekan-rekannya, namun bisa mempersembahkan satu assist untuk gol Maitimo.

Musim ini Persib ditangani sosok yang sangat Persib, Djadjang Nurdjaman. Dia mantan pemain Persib di era perserikatan mempunyai magis bagi tim kebanggaan kota Parahyangan itu. Selain berhasil mengantar Maung Bandung juara ISL 2014, dia juga mampu mengembalikan performa tim saat di ISC A, yang kala itu “amburadul” di tangan Dejan. Persib pun sukses finis di posisi lima setelah sempat berada di posisi 13.

Selain memperbaiki performa Persib, Djanur juga melakukan perombakan skuat hasil rekrutan Dejan. Sejauh ini, hanya ada nama Kim Jeffrey Kurniawan yang masih dipertahankan.

Djanur memiliki bekal meyakinkan dengan ‘magang’ di klub Serie A, Inter Milan, yang masih memiliki pertalian dengan Persib.

Pemain Dortmund: Kami Bukan Binatang

Pemain Dortmund: Kami Bukan Binatang

Kritik terus dilayangkan kubu Borussia Dortmund ke UEFA soal penjadwalan ulang laga kontra AS Monaco. Kali ini bek Sokratis Papastathopoulos yang bersuara.

Laga Dortmund vs Monaco sendiri harusnya digelar Rabu (12/4/2017) dinihari WIB. Namun beberapa saat sebelum pertandingan, tim Dortmund mengalami insiden di jalan. Bus yang mereka tumpangi terkena ledakan yang mengakibatkan kaca bus pecah dan bek Marc Bartra terluka.

UEFA yang katanya telah berkoordinasi dengan kedua tim (termasuk Monaco), memutuskan menunda laga itu sampai dinihari tadi. Namun keputusan itu dinilai merugikan tuan rumah yang mengaku masih terguncang.

Bahkan pelatih Thomas Tuchel mengaku UEFA sebenarnya tidak mengajak Dortmund berbicara. Artinya, keputusan yang dikeluarkan UEFA bersifat sepihak.

Sokratis yang turun melawan Monaco, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya, sikap otoritas sepakbola Eropa itu amat sangat tidak manusiawi mengingat insiden yang terjadi bukanlah peristiwa sembarangan.

“Saya senang karena masih hidup. Itu momen paling sulit sepanjang hidup dan saya harap tidak ada lagi yang mengalaminya. Setelah kejadian itu, saya tidak sempat lagi berpikir soal pertandingan,” cerita Sokratis dikutip Four Four Two.

“Mereka (UEFA) harusnya mengerti kalau kami bukan binatang. Kami manusia, punya keluarga yang punya anak kecil di rumah. Sekali lagi, kami bukan binatang. Saya senang semua pemain dan staf,” imbuhnya.

Faktor psikis pemain Dortmund memang samar terlihat di laga dini hari tadi. Sempat tertinggal 0-2 sebelum Ousman Dembele perkecil ketertinggalan, Dortmund pada akhirnya tetap menyerah 2-3 di leg pertama.

“Sulit untuk berpikir ke depan dan bermain setelahnya (peristiwa ledakan). Kami semua sedang berada dalam kondisi yang sulit untuk bekerja setelah apa yang terjadi hari Selasa. Semoga apa yang terjadi pada kami tidak dirasakan orang lain, ini jadi yang terakhir.”

“Kami akan bicara dengan presiden dan pelatih kami. Tapi kami tidak punya solusi. Saya merasa seperti yang dibilang, seperti binatang, bukan manusia. Mereka yang tidak merasakannya tidak mengerti apa yang kami rasakan,” tutupnya.

Carragher: Para Pemain Arsenal Seperti Pengecut

Arsenal dinilai tak mengalami perubahan dalam satu dekade terakhir. Para pemain The Gunners dinilai seperti seorang pengecut yang mau menghindari tantangan.

Saat melakoni pertandingan di Selhurst Park, Selasa (11/4/2017) dini hari WIB, Arsenal menelan kekalahan dengan skor akhir 0-3. Andros Townsend, Yohann Cabaye, dan Luka Milivojevic yang menjadi penentu kemenangan The Eagles.

Arsenal pun terancam tak akan lolos ke posisi empat besar, untuk mendapatkan tiket Liga Champions musim depan. Mereka ada di posisi lima klasemen dengan raihan 54 poin, berjarak tujuh angka dari Manchester City di posisi keempat.

Striker Arsenal, Theo Walcott, menyebutkan bahwa penampilan Arsenal melawan Palace ini bukanlah merupakan penampilan ‘Meriam London’ yang sebenarnya.

Eks penggawa Liverpool yang kini menjadi pundit, Jamie Carragher, mengkritik para pemain Arsenal. Mereka dinilai bermain seperti para pengecut yang mau lari dari tanggung jawab.

“Dia bilang bahwa ini bukan Arsenal, seperti itulah! Itu merupakan Arsenal selama 10, 15 tahun, di setiap tahunnya,” kata Carragher di Sky Sports.

“Terkadang para pemain ini, mereka ingin keluar dari situasi ini dan mencoba untuk memperhatikan dirinya sendiri –jangan bilang pada saya apa yang terjadi setelah pertandingan, tunjukkan pada saya di pertandingan.”

“Sekarang terlihat seperti para pemain ingin perubahan. Saya merupakan penggemar beratnya, tapi sekarang menang saatnya untuk berubah,” tambahnya.

Formasi 4-2-3-1 Juventus Bisa Bungkam Barcelona

Pertemuan antara Juventus dan Barcelona akan mengingatkan semua orang pada hasil final Liga Champions 2014/2015. Kala itu Barcelona berhasil menjuarai Liga Champions karena berhasil mengalahkan Juventus dengan skor 1-3.

Namun pada pertemuan kali ini, pada laga leg pertama perempatfinal Liga Champions yang akan digelar di Juventus Stadium, Rabu (12/4/2017) dinihari WIB, Juventus rasanya bisa membalaskan dendamnya tersebut. Juventus saat ini bukan lagi Juventus dua tahun lalu, begitu pun Barcelona.

Barca musim ini menjalani musim yang penuh dengan lika-liku. Di La Liga, mereka terus di bawah bayang-bayang Real Madrid yang terus memuncaki klasemen. Luis Enrique, pelatih mereka, akan meninggalkan tim akhir musim nanti. Dan beberapa persoalan lain seperti cedera pemain.

Sementara itu Juventus justru tampil lebih meyakinkan sepanjang musim ini. Superioritas di Serie A tetap terjaga sebagaimana lima musim sebelumnya. Di Liga Champions, Juventus pun bisa dibilang lolos tanpa hambatan berarti.

Dan keunggulan Juventus atas Barcelona pada pertemuan kali ini tidak sampai di situ saja.

Dalam beberapa musim terakhir, melangkah ke final Liga Champions 2015 memang menjadi pencapaian terbaik Juventus, bahkan sejak 2003 ketika Juve dikalahkan AC Milan di partai final. Juventus sendiri sempat mengalami masa kelam setelah calciopoli menjerumuskan mereka ke Serie B pada 2006.

Salah satu persoalan Juventus selalu gagal menaklukkan Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir adalah kurang tajamnya formasi dasar 3-5-2 di kejuaraan antar kesebelasan UEFA tersebut. Tak seperti di Serie A ketika formasi 3-5-2 Juventus mampu menaklukkan lawan-lawannya, di Liga Champions formasi 3-5-2 seolah tanpa taji.

Juventus sebenarnya beberapa kali mengubah formasi menjadi 4-3-1-2 atau 4-3-3 baik sejak menit pertama maupun ketika di tengah pertandingan Liga Champions. Hanya saja para pemain yang ada tidak disiapkan untuk bermain pada formasi 4-3-1-2 dan 4-3-3.

Pada laga final saat menghadapi Barcelona, Juventus pun menggunakan formasi 4-3-1-2. Namun Juventus saat itu lebih banyak tertekan ketimbang menebar ancaman bagi lini pertahanan Barcelona. Padahal Juventus sudah tertinggal 0-1 sejak menit keempat lewat gol Ivan Rakitic.

Juventus berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-55 melalui gol Alvaro Morata. Setelah itu, Juve lebih berani menyerang. Namun karena ketidaksiapan strategi Juventus menyerang dengan strategi ini, Barca berhasil menambah dua gol.

Kali ini, Juventus kemungkinan besar akan tampil dengan formasi dasar 4-2-3-1, formasi yang umumnya digunakan oleh kesebelasan-kesebelasan Liga Champions dan Eropa. Formasi ini digunakan oleh sang pelatih, Massimilliano Allegri, usai Juventus kalah dari Fiorentina dan beberapa pekan setelah dikalahkan AC Milan di Piala Super Italia.

Setelah menggunakan formasi 4-2-3-1 ini, sebelumnya menggunakan formasi dasar 3-5-2, Juventus mulai tak terkalahkan. Dari 17 laga menggunakan formasi ini, Juventus berhasil meraih 14 kemenangan dan dua kali hasil imbang. Satu kekalahan baru didapat beberapa waktu lalu, namun di ajang Coppa Italia, itu pun dengan catatan Juventus tetap menang agregat sehingga tetap lolos ke final.

Sebelum menghadapi Barcelona dinihari nanti, Juve kembali menggunakan formasi dasar 4-2-3-1 kala menghadapi Chievo Verona. Mengistirahatkan sejumlah pemain seperti Leonardo Bonucci, Mario Mandzukic, Miralem Pjanic, dan Giorgio Chiellini, Juventus tetap berhasil menang dengan skor 2-0.